Opini

Motivasi Columbus

Oleh: Prof. Will Poli

Columbus (1451-1506) adalah pelayar tangguh yang berlayar ke Barat untuk tiba di Timur, mencapai Kepulauan Maluku, dengan rempah-rempahnya yang menggiurkan negara-negara Barat. Keputusan untuk berlayar ke arah Barat adalah keputusan yang belum ada sebelumnya. Kini, keputusan semacam itu dinamakan “out-of-the-box thinking”. Apa dasar motivasi keputusan Columbus?
Motivasi Columbus tidak terlepas dari Roh Zaman yang dominan di dalam masyarakat Eropa ketika itu: (1) menjadi kaya-raya melalui pelayaran dan perdagangan; (2) menjadi bangsawan dengan kedudukan terhormat di dalam masyarakat. Dengan motivasi ini ia bernegosiasi dengan Ratu Isabella I dari Spanyol, yang akan membiayai perjalanannya. Empat butir kesepakatan yang tercapai ialah:
1. Ratu Isabella I akan menyediakan tiga kapal untuk perjalanan Columbus.
2. Columbus akan memperoleh 10% bagian kekayaan yang diperoleh di wilayah-wilayah yang ditemukannya.
3. Columbus akan diangkat menjadi admiral dan penguasa wilayah-wilayah yang ditemukannya dan diberikan gelar ningrat.
4. Apa yang menjadi bagian Columbus akan diwariskan pula kepada keturunannya.
Motivasi Columbus diperhadapkan dengan risiko kegagalan tindakannya. Di dalam dunia wirausaha risiko semacam itu dinamakan “calculated risk” (risiko tertimbang). Wirausaha tulen mengambil keputusan jika risiko keberhasilan dan kegagalan sekurang-kurangnya seimbang. Jika risiko kegagalan lebih besar, keputusan tidak diambil. Tidak mau mati konyol. Demikian juga, jika peluang keberhasilan jauh berada di atas peluang kegagalan, keputusan tidak diambil. Tidak ada ketegangan yang dinikmati lewat jalan yang gampang dan pasti. Sumber “tenaga dalam” wirausaha tulen ialah ketegangan yang dinikmati antara keberhasilan dan kegagalan. Ketegangan yang dinikmati itu dinamakan “creative tension” (ketegangan kreatif).

Peta Columbus

Dengan imajinasi dan motivasinya, Columbus berlayar ke Barat untuk tiba di Timur, di Kepulauan Maluku, yang rempah-rempahnya menggiurkan negara-negara Barat. Columbus berlayar ke Barat, tanpa peta, kecuali peta yang direka-reka di dalam pikirannya, kemudian digambarkan di atas kertas. Petanya adalah peta imajiner. Dengan peta imajiner itu ia gagal menemukan yang dicarinya, tetapi berhasil menemukan yang tidak dicarinya.

Setiap wirausaha bekerja dengan imajinasi dan motivasinya, yang pertama-tama merupakan peta imajiner di dalam pikirannya. Peta imajiner itu diperhadapkan dengan kenyataan sebenarnya, yang menjadi sumber pembelajaran untuk membuat keputusan baru, yang kontekstual. Antara imajinasi dan kenyataan ada peluang menemukan hal-hal yang baru, yang mungkin tidak diantisipasi sebelumnya. Columbus mencari Maluku, tetapi menemukan benua Amerika. Ia sekaligus gagal dan berhasil.

Renungan: Peta apakah yang ada di dalam pikiranku, yang menjadi acuan untuk menyongsong masa depan yang tidak pasti? Apa pengalamanku?, Apakah penyediaan kredit murah dan berbagai kemudahan akan melahirkan wirausaha yang tangguh? Apa pengalamanku?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s