Budaya

Mu’au: Budaya Menanam Padi Suku Dayak Ma’anyan

Penulis: Maria Frani Ayu

Budaya menanam padi yang menjadi ciri Khas suku Dayak, terutama Suku Dayak Ma’anyan di Kalimantan Tengah disebut sebagai Mu’au. Mu’au dapat diartikan sebagai menanam padi secara bergotong royong atau secara bersama-sama yang biasanya dilakukan pada lahan tadah hujan. Kegiatan mu’au ini sarat akan nilai-nilai budaya dan seni filosofis yang menginspirasi hidup masyarakat Dayak Ma’anyan pada umumnya.

Sebelum dilakukan Mu’au, biasanya dilakukan pembukaan dan pembersihan lahan sebagai tempat menanam atau mu’au. Lahan yang digunakan bisa berupa lahan bekas panen sebelumnya atau lahan baru. Lahan baru untuk menanam padi atau mu’au biasanya diperoleh dengan membuka hutan atau merubah hutan menjadi ladang bertanam. Apapun jenis lahannya, biasanya harus dilakukan proses bakar membakar sebagai persiapan untuk menanam tanaman/padi yang baru. Proses bakar membakar ini, biasanya dilakukan pada musim kemarau karena abu hasil pembakaran nanti akan didiamkan dalam jangka waktu tertentu (Biasanya sampai satu bulan) untuk selanjutnya dijadikan pupuk untuk tanaman yang baru. Masyarakat percaya bahwa abu hasil pembakaran tanaman sebelumnya akan sangat membantu menyuburkan tanaman yang akan ditanam sesudahnya.

Mu’au memiliki mekanisme kerja yang sangat unik. Mu’au menggunakan sistem kerja seumpama sistem pinjam-meminjam tenaga atau utang kerja. Sebagai ilustrasi, ketika satu keluarga sedang melaksanakan mu’au dan Ia dibantu oleh dua anggota keluarga dari satu keluarga tertentu, maka Ia kelak wajib untuk membawa dua orang anggota keluarga juga untuk membantu kegiatan mu’au yang dilakukan oleh keluarga yang sudah membantunya menyelesaikan mu’au miliknya. Saling bantu membantu ini, memiliki sebutan tersendiri dalam bahasa Dayak Ma’anyan. Saat kita membantu orang melaksanakan mu’au sementara giliran kita belum, sebutannya adalah “ngandrau”. Sementara, kalau giliran kita mu’au sudah selesai dan pada saat ini kita sedang dalam posisi membayar utang, namanya “nahur andrau”.

Mu’au biasanya dilakukan pada akhir bulan September sampai Akhir bulan November, masa menanam ini disebut sebagai masa mu’au.  Pada masa ini, kampung biasanya sangat sibuk untuk bahu membahu membantu satu keluarga ke keluarga lainnya. Masa mu’au ini tidak selalu tetap, terutama untuk batas akhir. Pada saat ini, sering kita temukan ada beberapa penduduk yang masih dalam proses mempersiapkan mu’au atau  selesai mu’au pada akhir bulan desember. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan ini, bisa karena faktor kesibukan atau karena faktor ladang yang belum siap untuk dtanami.

Menanam padi, pastinya membutuhkan benih padi. Benih padi yang digunakan untuk menanam padi oleh masyarakat Dayak ma’anyan disebut sebagai ‘wini’. Wini ini harusnya adalah benih padi yang berasal dari panen tahun sebelumnya. Biasanya kegiatan mu’au dilakukan setahun sekali, oleh sebab itulah mengapa benih padi untuk tahun menanam pada saat ini harus dari tahun sebelumnya. Kalau misalkan tahun lalu tidak melakukan panen dan sama sekali tidak ada wini, maka wini biasanya diperoleh dari meminta atau membeli pada keluarga yang tahun lalu melakukan panen.

Suku Dayak Ma’anyan biasanya menanam tiga jenis padi sekaligus dalam satu ladang. Tiga jenis padi ini adalah Ketan atau yang dikenal sebagai ‘dite’, Parai Gilai dan Parei Lungkung (Nama lainnya adalah padi berjenis Gogo Rancah). Masyarakat juga biasanya menanam padi pada bagian ladang yang tergenang air, meskipun jarang untuk menemukan satu ladang dalam keadaan ini. Padi yang ditanam pada daerah yang tergenang ini adalah padi yang diberi nama Parei Raden atau mungkin biasa dikenal dengan sebutan padi sawah.

Proses atau kegiatan Mu’au biasanya dibuka dengan melaksanakan prosesi memberkati benih padi yang akan ditanam. Proses ini disebut sebagai ‘ngilau winni’. Sayangnya, saat ini prosesi pemberkatan benih padi ini sudah sangat jarang ditemui. Proses ngilau wini pada saat ini biasanya dilakukan secara sederhana, dengan doa yang dipimpin oleh tokoh agama atau oleh mereka yang dipercayai oleh keluarga yang melakukan mu’au.

Pelaksanaan mu’au biasanya dipimpin oleh seorang yang berpengalaman terutama dalam kegiatan mu’au. Pemimpin tersebut disebut dengan “makas”. Makas inilah yang akan menjadi pemandu dalam kegiatan mu’au, Ia juga yang bertanggung jawab memimpin sampai ladang selesai ditanami dengan wini parei (Benih Padi).

Kegiatan mu’au biasanya dilakukan dengan membagi kelompok menjadi dua baris, depan dan belakang. Baris depan biasanya adalah laki laki yang membawa kayu runcing untuk membuat lubang yang di sebut dengan “ehek”, (Kegiatan saat membuat lubang disebut “ma’ehek”), sementara barisan belakang biasanya diisi wanita yang akan memasukkan benih ke dalam lubang yang telah dibuat oleh barisan depan. Kegiatan memasukkan wini kedalam lubang hasil maehek biasanya dikenal juga sebagai kegiatan menugal.

Mu’au biasanya dimulai sekitar pukul tujuh atau delapan waktu setempat dan berakhir pada pada tengah hari. Tapi, waktu penyelesaikan mu’au bisanya tergantung pada luasnya ladang yang ditanami dan jumlah orang yang ikut kegiatan ini. Pada pulul 10 pagi, biasanya ada istirahat yang diisi dengan kegiatan makan-makanan ringan bersama. Keluarga yang menyelenggarakan mu’au biasanya akan menyediakan makanan khas yang diberi nama, ‘wadai kiping’. Wadai kiping adalah jajanan tradisional yang berasal dari ketan, dibuat dalam bentuk bulat-bulat lalu dimasak kedalam kuah kental campuran gula merah dan santan, tidak lupa diberi tambahan daun pandan sebagai pemberi aroma rasa. Saat ini, sudah sangat jarang kita menemukan mu’au dikerjakan dengan menambahkan jajanan wadai kiping sebagai jajanan tradisional. Keluarga yang melaksanakan mu’au biasanya mengganti wadai kiping ini dengan kue-kue jajanan pasar yang mudah ditemukan di pasar, tidak mesti harus wadai kiping.

Saat mu’au berlangsung adalah saat-saat yang sangat menyenangkan. Senda gurau dan santai adalah jenis pembicaraan yang biasanya dilakukan oleh keluarga atau orang yang ikut kegiatan ini. Pembicaan biasanya juga diselingi dengan nasihat yang diberikan oleh orang-orang tua kepada generasi penerusnya. Kegiatan ini juga biasanya adalah kegiatan yang sangat menyenangkan untuk bisa saling mengenal satu orang dan orang lainnya, kita akan menjadi semakin dekat dengan satu anggota keluarga dan anggota keluarga lainnya.

Sayangnya memang, kegiatan mu’au ini sudah semakin jarang dilakukan di kampung. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah keberhasilan dari kegiatan mu’au ini. Masalah gagal panen sering melanda petani tradisional seperti ini.

Maria

Kegiatan Mu’au ini juga sudah banyak di-variasikan pada saat ini. Seperti teknik yang dikerjakan oleh kami sekeluarga.

Mula-mula, Benih padi yang ingin ditanam, terlebih dahulu di semaikan, lalu ketika sudah cukup umur, dipindahkan ke ladang atau sawah. Kegiatan menanam seperti ini disebut ‘ngamule’. Tidak seperti mu’au, ngamule parei atau menanam padi sudah banyak meninggalkan ciri khas mu’au. Meskipun demikian, esensi dan nilai-nilai kebudayaan dari mu’au masih sangat diperhatikan dan dipertahankan sampai saat ini.

Iklan