Sosial

Saatnya Teras Indonesia Memesona di Mata Dunia

Penulis: Khairunisa Maslichul

Ibarat sebuah bangunan, teras yang cantik akan memperindah rumah.  Pemilik rumah pun akan dipuji para tamu yang melintas di depan beranda indahnya.  Begitu pula sebaliknya jika teras rumah tak tertata, maka sang empunya rumah dianggap tak peduli dengan kondisi rumahnya.

Analogi serupa juga diterapkan pada suatu negara.  Setiap negara memiliki daerah perbatasan dengan negara lainnya.  Ada negara yang memiliki perbatasan berupa daratan, lautan, maupun keduanya.  Indonesia termasuk negara yang berbatasan secara darat dan laut.

Tak dapat dipungkiri, hingga hampir 74 tahun merdeka, Indonesia masih memiliki banyak daerah perbatasan yang belum terbangun rapi secara sosial-ekonomi.  Daerah perbatasan tersebut dikenal dengan sebutan Daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo hingga Juli 2018, ada 67 kabupaten di Indonesia yang memiliki pulau kecil dan terluar.  Selain itu, masih ada 187 kecamatan terluar dan 122 daerah tertinggal.

crossing-digoel-river-with-korindo-csr-team-for-the-sake-of-peoples-health
Daerah Asiki di Boven Digoel Papua berbatasan terdekat dengan negara tetangga Papua Nugini

Luasnya Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke tak pelak membuat pemerataan pembangunan acapkali terhambat masalah geografis.  Seperti halnya semakin besar suatu rumah(tak terkecuali terasnya), maka pembangunannya jelas memakan waktu lebih lama.

Meskipun begitu, daerah perbatasan negara juga merupakan bentuk kedaulatan yang perlu diamankan dan dipertahankan.  Batas-batas negara wajib dihormati karena secara hukum imigrasi, warga negara asing masuk ke negara lainnya harus dengan surat-surat resmi.

Indonesia telah memiliki tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang strategis di 2018 dan akan bertambah empat di 2019.  Mereka yaitu PLBN Entikong, Badau, dan Aruk di Kalimantan Barat, PLBN Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur dan PLBN Skouw di Papua.

Selain PLBN sebagai gerbang resmi Indonesia di daerah perbatasan, pembangunan masyarakat di daerah 3T juga harus terus ditingkatkan kualitasnya.  Penduduk di daerah 3T sudah saatnya berperan aktif dalam pembangunan dan bangga dengan kemajuan Indonesia.

dsc_0193-cropped-smaller
Pos Lintas Batas Negara/PLBN memiliki peran strategis sebagai gerbang resmi masuknya warga asing ke wilayah NKRI

Umumnya, daerah 3T di Indonesia berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI).  Padahal, sumberdaya alam, terutama hutan tropis dan ekosistemnya banyak berlokasi di KTI.  Tanpa diiringi kualitas sumberdaya manusia, daerah 3T akan sulit mengelola kekayaan alam tersebut.

Lalu, faktor apa sajakah yang dapat menggerakkan majunya roda pembangunan di daerah 3T? Berdasarkan tinjauan pustaka dan pengalaman pribadi, inilah tiga hal yang dapat memicu sekaligus memacu berkembangnya daerah 3T di Indonesia.  Selamat mencermati ketiganya.

Pendidikan di daerah 3T untuk Tabungan Masa Depan

            Saya bersyukur dengan adanya program guru mengajar di daerah 3T yaitu Indonesia Mengajar dan Guru SM3T (Sarjana Mengajar 3T) sejak tahun 2000-an lalu.  Minimnya jumlah guru dan gedung sekolah di daerah 3T membuat proses belajar-mengajar menjadi ala kadarnya.

Sementara itu, Indonesia memiliki Bonus Demografi pada tahun 2020 – 2035.  Bonus tersebut terjadi saat jumlah warga mayoritas di suatu negara adalah penduduk usia produktif (15 – 65 tahun) sehingga pembangunan negara dapat lebih optimal kualitas maupun kuantitasnya.

1418631639
Pemerataan pendidikan di daerah 3T mampu menjadi modal kemajuan pembangunan rakyat Indonesia

Bukti nyata negara yang dapat memanfaatkan Bonus Demografi untuk keberhasilan pembangunan yaitu Korea Selatan.  Kemajuan Korea Selatan saat ini turut dipengaruhi oleh pemerataan pendidikan di sana sejak tahun 1970-an hingga 1980-an bagi para generasi muda.

Adik kandung saya sempat mengajar sebagai Guru SM3T di daerah Nunukan Kalimantan sekitar 4 – 5 tahun lalu.  Dirinya bertutur, “Remaja Suku Dayak di sana ingin sekolah hingga sarjana agar bisa menghidupi keluarga dan orang tuanya.”          Ya, saat generasi muda dan produktif memiliki pendidikan memadai, maka mereka dapat menanggung biaya hidup penduduk usia non-produktif (balita, anak, dan lansia).  Jika penduduk usia produktif hanya berpendidikan rendah, mereka malah akan menjadi beban kehidupan sekaligus pembangunan.

Kaum muda dari Suku Dayak Nunukan tersebut sadar bahwa sumberdaya alam akan habis jika mereka tak tahu cara mengelolanya.  “Mereka ingin menjadi pengusaha dari hasil ladang dan hutan atau bukan sekedar petani penggarap seperti orang tua mereka,” tambah adik saya lagi.

Selain pengiriman pengajar ke daerah 3T, beasiswa untuk daerah 3T juga sangat diperlukan.  Saat meliput festival CSR di Jakarta pada akhir 2018 lalu, saya bertemu dengan dan mewawancarai langsung seorang calon pilot yang berasal dari sebuah kaki gunung di Papua.

017-cropped-smaller-1
Semua anak bangsa, termasuk putra asli Papua dari daerah perbatasan berhak mengenyam pendidikan setinggi-tingginya

“Biaya sekolah dari SMP hingga sekolah pilot ini dibiayai dari dana CSR.  Saya bersyukur sekali, Kakak,” ungkapnya sambil tersenyum lebar.  “Sebagai pilot nantinya, saya akan bantu distribusi pangan dan obat-obatan bagi penduduk perbatasan, terutama anak-anak,” tekadnya.

Perempuan di daerah 3T sebagai Agen Penggerak Pembangunan

            Ketika pendidikan menjadi modal masa depan, maka seorang ibu adalah pendidik pertama dalam keluarganya.  Seorang perempuan terdidik akan mampu mengembangkan potensi buah hatinya.  Mendidik seorang perempuan sama artinya dengan menyejahterakan seisi keluarga.

011-cropped-smaller
Para mama di daerah perbatasan Indonesia sangat berpotensi optimal untuk menggerakkan roda ekonomi sehingga penduduk desa di daerah 3T dapat meningkat taraf hidupnya

Para ibu yang terampil dan menghasilkan pendapatan akan meningkatkan tingkat pendidikan sang anak.  Di tempat adik saya pernah bertugas sebagai Guru SM3T di Nunukan Kalimantan, para ibu yang aktif bertani ternyata memiliki anak dengan prestasi sekolah lebih baik.

Itu karena para ibu petani rutin menyisihkan penghasilannya untuk membeli buku-buku bagi anaknya.  “Buku-buku ini jadi modal anak saya untuk hidup lebih baik daripada orang tuanya,” tutur mereka kepada adik saya.  Tak heran, anak-anak mereka lebih rajin dan semangat belajar.

Tahun 2018, jumlah perempuan di Indonesia sebesar 131,9 juta jiwa sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).  Berdasarkan jumlah tersebut, lebih dari 50% perempuan Indonesia berusia produktif (20 – 64 tahun) yaitu 86,6 juta jiwa.  Kelompok inilah yang harus terampil dan terdidik.

Sayangnya, para perempuan di daerah 3T kerap terhalang untuk bersekolah maupun bekerja profesional karena terbatasnya akses transportasi.  Oleh karena itu, potensi kemampuan dan sumberdaya lokal harus terus dikembangkan seperti halnya bercocok tanam dan menjahit.

Pemberdayaan di daerah 3T untuk Kemajuan yang Berkelanjutan

            Berikan kail dan bukan hanya ikan” adalah prinsip pemberdayaan untuk pembangunan yang berkesinambungan, khususnya di daerah 3T.  Saat pendidikan dan perempuan berperan sebagai sarana dan pelaksananya, maka pemberdayaan (empowerment) menjadi prosesnya.

tunas-sawa-erma-bina-mama-mama-papua-budidaya-tanaman-sayuran-03
Pembangunan di daerah perbatasan harus mampu memberdayakan para penduduknya secara sosial dan ekonomi dengan pemanfaatan sumberdaya lokal

Sebagai alumni Guru SM3T di Nunukan Kalimantan, adik saya menyaksikan para prajurit TNI AD yang ditugaskan di perbatasan Indonesia dan Malaysia ikut membantu warga membangun desa.  Caranya antara lain dengan melatih warga tentang teknik irigasi modern agar ketika kemarau, masyarakat tetap bisa bertani.  Sebelumnya, musim kering identik dengan berburu ke dalam hutan.  Meskipun membahayakan, itu satu-satunya jalan memperoleh makanan.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) juga telah menargetkan desa di daerah 3T untuk mandiri secara ekonomi.  Dua program yang diluncurkan yaitu pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMD) dan produk unggulan desa.

Pemberdayaan daerah 3T pun harus sesuai potensi lokal lingkungan.  Membangun rumah di pegunungan dan lautan tentu saja memiliki ciri khas masing-masing, tak terkecuali bentuk terasnya.  Setiap daerah 3T mempunyai keunikan lingkungan untuk diberdayakan.

korindo-turut-mengatasi-gizi-buruk-di-papua
erawatan kesehatan para penduduk perbatasan juga merupakan bentuk pemberdayaan untuk mengurangi kasus penyakit dan kematian yang berdampak pada menurunnya produktifitas hidup

Kondisi Indonesia sebagai negara tropis sangat mendukung tumbuhnya sayuran sepanjang waktu.  Kebun sayur itu juga berfungsi untuk menyehatkan penduduk, terutama anak dan ibu hamil.  Di Asiki Papua, kasus gizi buruk dan kematian ibu melahirkan termasuk tinggi jumlahnya.

 

Iklan